Skip navigation

oleh: Priyanto Sunarto

Masa Merayakan Mata

Perubahan cepat, meluas dan merasuk dalam bidang komunikasi menjadi salah satu ciri menonjol masa ini. Radio dan surat kabar yang semula merupakan primadona makin tergeser oleh peningkatan keragaman media: televisi, jejaring internet, celullar, cakram padat. Banyak yang menduga budaya kertas akan segera berlalu, meski sampai hari ini tak terbukti. Yang makin nyata adalah bahwa, keluasan jangkauan komunikasi merasuk hingga ke celah terkecil kehidupan. Ragam materi dan karakter komunikasi pun melebar. Kemudahan menipiskan saringan pada isi pesan, semua hal dapat menjadi berita, seremeh apapun. Bila dahulu media massa lebih bersifat searah, kini interactivity menjadi penting. Penerima pesan menuntut untuk terlibat, makin langsung (realtime) makin baik. Penerima ingin ikut menjadi pengirim. Masyarakat tak ingin tertinggal, merasa perlu selalu berada di tengah banjir informasi.

Perluasan komunikasi membuka pintu bagi demokratisasi media, menghargai keberbedaan daripada keseragaman. Meski disadari tetap kuatnya dominasi penguasa media, dalam batas tertentu kelompok yang semula tersisihkan mendapat tempat bicara. Masuk dalam jejaring komunikasi dunia, tiap kelompok masyarakat mendapat kesempatan mengutarakan aspirasi, mengusung kepentingan, dan melakukannya dengan cara sendiri. Ini merupakan peluang bagi keabsahan lokalitas dalam berkomunikasi, yang sekaligus memperkaya ragam ungkap sesuai karakter komunitas pendukungnya.

Dalam kemarakan ini, olah visual menjadi fenomena baru yang makin digarap media. Terjadi pergeseran karakter komunikasi dari hanya mendengar menjadi melihat. Mata sangat dimanjakan dalam komunikasi dewasa ini, seeing is believing. Retorika yang bersandar pada kata makin didominasi pembujukan melalui gambar. Meski dibanding kata, gambar dianggap tak cukup terstruktur bangun maknanya, gambar diakui mengatasi kendala perbedaan bahasa verbal dan secara tersirat menampilkan hal yang sulit terkatakan. Karena itulah makin banyak penelitian dilakukan terhadap bahasa rupa. Dan akhir-akhir ini secara luas budaya visual merupakan pokok bahasan interdisiplin yang menonjol.

Dalam suasana inilah pendidikan komunikasi visual menjadi bidang yang berkembang pesat di seluruh dunia, memasok ahli olah visual dalam pasar kerja industri komunikasi. Desentralisasi pusat produksi komunikasi memungkinkan tiap wilayah mengembangkan isi dan karakter komunikasi visual sesuai aspirasi masyarakatnya. Pendidikan komunikasi visual secara regional menjamur melayani peluang keahlian yang sesuai dengan iklim komunikasi setempat, di samping pada tingkat lebih luas, ikut memberi warna pada kekayaan kebudayaan dunia.

Dari Seni Grafis Hingga Multimedia

Pendidikan grafis di Seni Rupa ITB didirikan tahun 1967 oleh Mochtar Apin, A.D. Pirous dan Kaboel Soeadi. Studio tersebut menggabungkan pendidikan baik untuk seni grafis (printmaking: woodcut, lihography, etching) maupun desain grafis secara terbatas (kaligrafi, ilustrasi, fotografi, desain buku, poster, kalender, iklan). Karena pendidiknya adalah para seniman ternama, masa tersebut aspek estetika terlihat sangat kental diolah dibanding aspek komunikasi.

A.D. Pirous pada tahun 1969 berkesempatan belajar di Rochester Institute Of Technology, Amerika Serikat, untuk mempersiapkan pendirian sekolah desain grafis di Institut Teknologi Bandung (ITB). Niat ini didasari dari pengamatan bahwa, negara yang baru berkembang membutuhkan tenaga desain grafis untuk mengkomunikasikan berbagai program pemerintah. Maka pada tahun 1973 Studio Grafis dimekarkan menjadi dua studio. Studio Seni Grafis diserahkan tanggung jawabnya pada Kaboel Soeadi. Studio Desain Grafis dipimpin oleh A.D. Pirous dengan dibantu T. Sutanto, Priyanto S. (desain grafis, ilustrasi), Suyadi (ilustrasi, animasi), Leonardi, Djoni Djuhari (fotografi) dan Tjun Suryaman (Proses Cetak). Kemudian Primadi Tabrani bergabung mengembangkan studi audio-visual, yang diberikan mendasari pengetahuan tentang media bergerak seperti animasi dan televisi.

Pendidikan semula berorientasi pada desain grafis untuk percetakan yang saat itu berkembang pesat. Revolusi teknologi cetak offset memicu peningkatan kebutuhan tenaga ahli di bidang penerbitan buku, surat kabar dan majalah, Materi grafis untuk pameran juga diberikan untuk mengantisipasi kebutuhan promosi dan pameran dagang. Animasi yang merupakan kuliah lanjutan dari ilustrasi ternyata disukai siswa. Dengan makin meningkatnya minat pada animasi dan audio-visual dalam bidang profesi komunikasi, mulai terasa bahwa istilah desain grafis sudah tidak begitu tepat dengan materi pendidikan yang diberikan.

Studio desain grafis ITB pada tahun 1984 secara resmi berubah menjadi Studio Desain Komunikasi Visual. Meski semula istilah ini membingungkan masyarakat, dalam satu tahun orang terbiasa menyebut inisial DKV. Di bawah nama tersebut siswa diharapkan menjadi ahli yang secara kreatif mampu memecahkan masalah pesan komunikasi melalui media visual / seni rupa. Struktur kuliah yang bersifat broad-based ini memberikan bekal yang umum kepada siswa, karena makin lebarnya kemungkinan profesi yang terbuka di lapangan. Pendidikan demikian lebih menekankan pada pengetahuan konseptual daripada pematangan ketrampilan. Dalam proses pendidikan siswa dapat saja secara mandiri mendalami salah-satu bidang khusus yang kelak akan menjadi pilihan karirnya. T. Sutanto pada tahun 1985 melanjutkan pendidikan di Pratt Institute, New York, untuk menggali sisi teoretik dalam komunikasi visual. Indarsjah T. dan Alfonso R.K. tahun 1987 mengikuti program kerja praktek di beberapa studio grafis terbaik di Belanda, untuk menghayati sendiri kemantapan desain grafis negeri yang kekuatannya diakui dunia.

Sementara itu perkembangan kekaryaan dan keilmuan komunikasi visual makin meluas dengan kecenderungan pada bidang spesialisasi. Masyarakat pengguna alumni mulai mempertanyakan kematangan sistem pendidikan broad-based. Segi konseptual alumni memang diakui mutunya, hanya saja dibutuhkan masa cukup lama untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja. Muncul perbincangan di kalangan pengajar DKV-ITB mengenai sistem pendidikan yang memungkinkan siswa memperdalam bidang tertentu yang dibutuhkan masyarakat. Pada tahun 1989, Priyanto S. mengunjungi beberapa sekolah di Inggris untuk mempelajari, bagaimana pendidikan spesialisasi desain grafis dilaksanakan. Ternyata tiap sekolah mempunyai kebijakan sendiri-sendiri. Pendirian studi khusus didasarkan pada: (1) kebutuhan masyarakat pada suatu bidang tertentu, (2) ketersediaan tenaga pendidik yang ahli dalam bidang tersebut, (3) minat mahasiswa dalam bidang tertentu. Di samping desain grafis untuk media cetak dan periklanan, bidang yang menonjol adalah desain informasi (information design), film animasi, pemrogram televisi, dan media grafis untuk pendidikan (educational media design).

Pada rapat kerja evaluasi kurikulum tahun 1993, para staf pengajar DKV-ITB menggagas pendidikan yang memungkinkan mahasiswa memilih dan menggali kemampuan di salah-satu bidang komunikasi visual. Kesulitan muncul karena lembaga pendidikan terikat pada berbagai ketentuan baku, tak bisa diubah secara sembarang. Dalam kekakuan ini tak mudah juga memastikan bidang khusus yang akan menjadi tuntutan masa depan dan bentuk kurikulum. Sebelum memutuskannya, untuk sementara waktu dilakukan uji-coba melalui pembagian kelompok minat di tahun terakhir melalui kurikulum tunggal yang ada. Dalam pertemuan saat itu pula disepakati bahwa komunikasi visual adalah bidang yang merupakan gabungan dari ilmu komunikasi dan ilmu seni rupa.

Dalam perjalanan waktu, para staf pengajar mulai memantapkan kekhususan pada berbagai bidang dalam komunikasi visual, baik teoretik maupun kekaryaan. Pada masa uji-coba ini, alumni banyak berjasa memberi saran mengenai materi yang diperlukan dunia profesi, bahkan kadang ikut menjadi pengajar tamu. Minat mahasiswa sangat fluktuatif terhadap beberapa bidang menonjol seperti publication design, kampanye sosial, periklanan, information design, illustrasi, fotografi, animasi dan audio-visual. Trend minat sejalan dengan perkembangan industri komunikasi di negeri ini.

Sementara itu masyarakat industri komunikasi makin menuntut pengadaan ahli dalam bidang tertentu. Perusahaan grafis, penerbitan dan industri percetakan yang meningkat sejak 1980an membutuhkan ahli desain grafis. Masyarakat periklanan mengharapkan dapat diperoleh alumni yang berbekal cukup untuk terjun dalam industrinya. Stasiun Televisi makin bertambah dengan jam tayang makin panjang, memberi peluang bagi pendidikan audio-visual. Sebagai sekolah yang berada dalam lingkungan teknologi, kematangan teknologi digital disertai perkembangan internet dan interactive media memberi indikasi bidang yang akan dikembangkan dalam komunikasi visual ITB.

Setelah sepuluh tahun masa mengkaji, tahun 2003 program studi DKV-ITB memulai langkah baru program jalur peminatan. Sistem ini membagi perkuliahan dalam tiga tahap: dua semester untuk pendidikan dasar senirupa / foundation year; tiga semester tahap pendidikan dasar komunikasi visual; dan tiga semester terakhir memantapkan diri dalam jalur minat utamanya. Pada tahap awal siswa mendapat pendidikan dasar yang sama bagi seluruh mahasiswa seni rupa. Setelah berada dalam lingkungan DKV, siswa dibekali kemampuan dasar dan wawasan umum yang harus dipunyai oleh ahli komunikasi visual. Pemantapan konseptual ditekankan pada tahap ini. Baru pada tahap berikut mahasiswa dipersilakan memilih jalur minat yang ingin ditempuhnya. Pada tahap ini mahasiswa hanya mendalami salah-satu bidang minat saja. Siswa tetap diberi kesempatan mengambil kuliah pilihan melengkapi keperluan mereka dengan beberapa kuliah terkait di luar jalur pilihannya. Dengan demikian siswa dapat merencanakan sendiri karirnya dan memusatkan perhatian pada kekhususan yang diinginkan. Sementara ini hanya tiga jalur peminatan yang dibuka untuk mewadahi: (1) Komunikasi Grafis, (2) Kreatif Visual Periklanan, (3) Multimedia.

Struktur Kurikulum 2003 Perndidikan Desain Komunikasi Visual-ITB

Komunikasi grafis (on surface media) menampung minat siswa mengembangkan diri dalam desain grafis, ilustrasi, fotografi, tipografi, information design dan branding. Kreatif Visual Periklanan merupakan bidang minat bagi yang ingin menerjunkan diri di periklanan dan kampanye. Pendidikan jalur minat periklanan, ditekankan kepada bidang kreatif (creative division). Bidang minat yang makin diminati adalah Multimedia (time-based media), yang menampung minat mahasiswa dalam animasi, pertelevisian dan desain interaktif. Teori RWD (Ruang Waktu Datar) Primadi Tabrani membantu mahasiswa, terutama di bidang multimedia. Dalam perkembangan terakhir, melalui kerjasama dengan Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika (STEI-ITB), jalur peminatan multimedia membuka peluang studi dalam game-technology. Sambil berjalan, program studi DKV-ITB masih terus membenahi beberapa bagian dari sistem pendidikan di atas. Penyesuaian selalu dilakukan untuk meningkatkan mutu tiap bidang minat.

Dunia industri komunikasi terus bergerak, pendidikan harus siap mengantisipasi perkembangan tersebut. Dalam waktu tak terlalu lama struktur pendidikan di atas harus dievaluasi ulang. Dengan basis konseptual yang kuat tiga jalur diharapkan dapat menampung perkembangan yang terjadi. Saat ini masih dievaluasi komposisi yang terbaik antara pendidikan dasar komunikasi visual dengan pendidikan jalur peminatan. Sementara itu juga pemantauan perkembangan bidang baru dalam industri selalu dilakukan. Bila tuntutan situasi mengharuskan dan kesiapan sarana memungkinkan, bisa saja dirancang program peminatan yang baru. Pendidikan masa kini lebih menekankan pada competency-based dan problem-based, menjawab perkembangan kebutuhan industri dan aspirasi masyarakat.

Mengolah Siasat, Menghembus Rasa

Secara sederhana komunikasi visual mengemban tugas, mengantar pesan dari pengirim kepada penerima melalui impuls visual. Ahli komunikasi sangat berperan dalam menentukan apa dan bagaimana komunikasi massa dibangun bagi masyarakat yang disasar. Pesan komunikasi selalu dilatari strategi, mempunyai tujuan tertentu kepada khalayak tertentu. Ahli komunikasi yang handal mampu merancang siasat yang jitu. Dalam mewujudkannya ke dalam bentuk visual, terdapat sejumlah masalah. Disinilah ahli komunikasi visual bekerja memecahkan, bagaimana menampilkan gagasan visual yang dapat “menyambungrasakan” pesan dengan penerima. Masalah “olah rasa” disini mengindikasikan keberadaan domain estetik dalam komunikasi visual.

Desain komunikasi visual memanfaatkan aspek estetik sebagai jembatan penghubung agar pesan mau diterima oleh khalayak. Periklanan kadang memakai istilah tone and manner untuk aspek ini. Tiap khalayak memiliki karakter dan nilai estetik yang berbeda dalam menanggapi wujud yang dilihatnya. Bahasa dan budaya rupa menjadi studi yang penting dalam menggali pengertian tentang aspek kognitif dan afektif terhadap objek visual.

Thomas Ockerse dalam ceramahnya tahun 2000 di ITB mengidentifikasi tiga jenis bahasa dalam komunikasi visual: bahasa practical yang bersifat kognitif bermakna tunggal, bahasa dialectic yang bersifat persuasif mengundang argumen, dan bahasa poetical yang merangsang imajinasi kepada kesadaran yang lebih tinggi. Ketiga jenis bahasa itu tak berdiri sendiri dalam satu impuls visual, melainkan saling mengisi. Dari ketiganya, aspek poetic menarik karena menampilkan sesuatu secara tersirat dengan maksud menawarkan sensasi puitik yang lebih dalam.

Bagian yang sulit diterangkan ini dalam proses komunikasi secara tersembunyi membentuk persepsi pelihat. Gambar mempunyai kekuatan emotif yang besar dalam menggerakkan rasa. A.D. Pirous menyampaikan dengan cara berbeda, yaitu kesatuan antara Head (pemikiran), Hand (ketrampilan) dan Heart (rasa) yang selalu muncul dalam karya komunikasi visual. Bahwa proses pemikiran merupakan dasar konseptual dalam desain, tak dapat dipungkiri. Ketrampilan dalam arti luas tak hanya bersifat fisik, tetapi kemampuan menggabung berbagai potensi ke dalam karya. Di atas segalanya, bagaimana olah rasa dihembuskan dalam karya, menentukan keberhasilan komunikasi visual.

Dalam pendidikan komunikasi visual kekuatan konseptual (head) menjadi landasan kukuh bagi siswa dalam mengidentifikasi masalah dan menggagas pemecahan yang sesuai. Hal ini dapat dilakukan dengan membekali kesadaran siswa tentang peranannya dalam pemecahan masalah komunikasi visual melalui latihan dan diskusi intensif dengan pembimbing. Perkembangan sistem kerja, metodologi, dan strategi dalam dunia komunikasi mengharuskan lembaga pendidikan memantau terus apa yang terjadi di industri komunikasi, agar siswa tak gagap saat terjun ke lapangan.

Berterimakasihlah pada kemajuan teknologi, proses produksi menjadi lebih ringkas dan mudah. Ketrampilan (hand) yang dulu harus dipelajari susah-payah sekarang tinggal dipetik tanpa keringat dari komputer. Pada masa lalu hanya lembaga pendidikan yang sangat kaya mampu mendanai laboratorium yang nyaris mirip situasi dalam industri. Itupun tak menjamin kelanggengan peralatan yang cepat ketinggalan jaman. Kini peralatan produksi diciptakan lebih praktis. Siswa bahkan dapat memiliki perangkat yang secara operasional tak jauh berbeda dengan yang digunakan di industri. Dalam situasi sebenarnya tentu perangkatnya lebih canggih, tapi pada dasarnya sistem kerjanya sama. Pekerjaan tata-letak, sunting gambar ataupun olah suara dalam batas tertentu dapat dilakukan siswa di laptop.

Mendesain, memotret, menggambar dan menyusun huruf jadi pekerjaan gampang yang bisa dilakukan siapa saja. Semangat ini tentu sejalan dengan demokratisasi desain, siapapun boleh menjadi desainer. Kemudahan ini merupakan tantangan bagi siswa, bagaimana menampilkan diri sebagai yang terbaik di antara jutaan desainer dadakan. Mengadu kecanggihan di ranah teknologi tak menjamin, karena teknologi makin murah bagi siapa saja, dan mengikuti kebaruannya hanya membuat kita menjadi budak. Dalam persaingan ini yang ditingkatkan bukan hanya kebaruan, tetapi juga kepekaan, sensibilitas mengolah aspek emotif / rasa tampilan desain. Kemampuan ini tampak dalam kepekaan memilih dan menyusun gambar / huruf dan elemen visual lain. Banyak siswa dan desainer mulai melirik kembali cara kerja manual, dengan tangan, untuk menampilkan keunikan yang tak dapat diciptakan komputer. Tampilan gambar maupun huruf yang tampak tak terlalu sempurna justru memberikan “rasa manusia”.

Dalam pendidikan komunikasi visual, latihan sensibilitas dan kreatifitas menjadi kunci. Hal ini menyebabkan praktik pendidikannya menjadi lebih rumit. Sensibilitas ditingkatkan melalui latihan melihat, membuka kepekaan seluruh indera, mengerjakan, menghayati, merasakan. Latihan kreatifitas menuntut siswa menggali jawaban sendiri. Jawaban yang sama adalah salah. Siswa diminta menemukan gagasan yang unik dan segar, tanpa melupakan tugasnya dalam proses transfer pesan yang dikehendaki. Jawaban yang sangat logis belum tentu menarik untuk dilihat, membosankan. Di sisi lain, jawaban unik yang menarik perhatian, mungkin tak sesuai tujuan pesan, menyesatkan. Pembimbing dalam latihan ini berperan sebagai “sparring partner” yang memotivasi siswa untuk terus mencari.

Berkecimpung di antara sisi kreatif dan sisi komunikatif membutuhkan usaha ekstensif, terus menerus melatih sensibilitas dan kreativitas olah visual. Keahlian yang diandalkan adalah menggali ungkap kreatif yang sesuai isi pesan, dan menyambungrasa tampilan dengan khalayak yang dituju. Horisonnya terbentang antara keapikan desain Swiss School hingga ke dekonstruksi David Carson, di antara kelembutan Prancis hingga absurditas Polandia, di antara keanggunan parfum Nina Ricci hingga minyak Putri Duyung… Dimana letak “rasa” khalayak kita yang berjumlah duaratus limapuluh juta jiwa ini? Itulah tugas ahli komunikasi visual Indonesia menggali terus sepanjang negeri ini masih ada.

Beberapa Pustaka Acuan:

Bierut, Michael, (ed), 1997, Looking Closer 2, Allworth Press, New York
Mierzoeff, Nicholas (ed), 1998,
The Visual Culture, Routledge, London.
Naisbitt, John & Patricia Aburdene, 1982, Megatrends, Megatrends Ltd.
Pirous, A.D., 2003,
Melukis itu Menulis, Penerbit ITB, Bandung
Robinson, Jeffrey, 1998, The Manipulators, Simon & Schuster UK Ltd., London
Toffler, Alvin, 1975,
The Third Wave, Bantam Books Inc., New York
Toorn, Jan van (ed), 1997, Design Beyond Design, Jan van Eyck Academy Edition

•••

sumber: http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/09/04/pendidikan-desain-komunikasi-visual-masalah-dan-kiat-kiatnya/

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Desain grafis adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan seefektif mungkin. Dalam desain grafis, teks juga dianggap gambar karena merupakan hasil abstraksi simbol-simbol yang bisa dibunyikan. Desain grafis diterapkan dalam desain komunikasi dan fine art. Seperti jenis desain lainnya, desain grafis dapat merujuk kepada proses pembuatan, metoda merancang, produk yang dihasilkan (rancangan), atau pun disiplin ilmu yang digunakan (desain). Seni desain grafis mencakup kemampuan kognitif dan keterampilan visual, termasuk di dalamnya tipografi, ilustrasi, fotografi, pengolahan gambar, dan tata letak.

Batasan Media

Desain grafis pada awalnya diterapkan untuk media-media statis, seperti buku, majalah, dan brosur. Sebagai tambahan, sejalan dengan perkembangan zaman, desain grafis juga diterapkan dalam media elektronik, yang sering kali disebut sebagai desain interaktif atau desain multimedia.

Batas dimensi pun telah berubah seiring perkembangan pemikiran tentang desain. Desain grafis bisa diterapkan menjadi sebuah desain lingkungan yang mencakup pengolahan ruang.

Prinsip dan unsur desain

Unsur dalam desain grafis sama seperti unsur dasar dalam disiplin desain lainnya. Unsur-unsur tersebut (termasuk shape, bentuk (form), tekstur, garis, ruang, dan warna) membentuk prinsip-prinsip dasar desain visual. Prinsip-prinsip tersebut, seperti keseimbangan (balance), ritme (rhythm), tekanan (emphasis), proporsi (“proportion”) dan kesatuan (unity), kemudian membentuk aspek struktural komposisi yang lebih luas.

Peralatan yang digunakan oleh desainer grafis adalah ide, akal, mata, tangan, alat gambar tangan, dan komputer. Sebuah konsep atau ide biasanya tidak dianggap sebagai sebuah desain sebelum direalisasikan atau dinyatakan dalam bentuk visual.

Pada pertengahan 1980, kedatangan desktop publishing serta pengenalan sejumlah aplikasi perangkat lunak grafis memperkenalkan satu generasi desainer pada manipulasi image dengan komputer dan penciptaan image 3D yang sebelumnya adalah merupakan kerja yang susah payah. Desain grafis dengan komputer memungkinkan perancang untuk melihat hasil dari tata letak atau perubahan tipografi dengan seketika tanpa menggunakan tinta atau pena, atau untuk mensimulasikan efek dari media tradisional tanpa perlu menuntut banyak ruang.

Seorang perancang grafis menggunakan sketsa untuk mengeksplorasi ide-ide yang kompleks secara cepat, dan selanjutnya ia memiliki kebebasan untuk memilih alat untuk menyelesaikannya, dengan tangan atau komputer.

Daftar Software Desain Grafis

Ada beberapa software yang digunakan dalam desain grafis:

Desktop publishing

  • Adobe Photoshop
  • Adobe Illustrator
  • Adobe Indesign
  • Coreldraw
  • GIMP
  • Inkscape
  • Adobe Freehand

Webdesign

  • Macromedia Dreamweaver
  • Microsoft Frontpage
  • Notepad

Audiovisual

  • Adobe After Effect
  • Adobe Premier
  • Final Cut
  • Adobe Flash, atau sebelumnya Macromedia Flash

Rendering 3 Dimensi

  • 3D StudioMax
  • Maya
  • AutoCad

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Desain biasa diterjemahkan sebagai seni terapan, arsitektur, dan berbagai pencapaian kreatif lainnya. Dalam sebuah kalimat, kata “desain” bisa digunakan baik sebagai kata benda maupun kata kerja. Sebagai kata kerja, “desain” memiliki arti “proses untuk membuat dan menciptakan obyek baru”. Sebagai kata benda, “desain” digunakan untuk menyebut hasil akhir dari sebuah proses kreatif, baik itu berwujud sebuah rencana, proposal, atau berbentuk obyek nyata. Proses desain pada umumnya memperhitungkan aspek fungsi, estetik dan berbagai macam aspek lainnya, yang biasanya datanya didapatkan dari riset, pemikiran, brainstorming, maupun dari desain yang sudah ada sebelumnya. Akhir-akhir ini, proses (secara umum) juga dianggap sebagai produk dari desain, sehingga muncul istilah “perancangan proses”. Salah satu contoh dari perancangan proses adalah perancangan proses dalam industri kimia.

RadjaDesain?

Awalnya, “Radja Desain” hanya menjadi panggilan bagi salah seorang pendiri perusahaan kecil ini. Orang ini, yang menolak disebutkan namanya, adalah seorang mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI yang diakui oleh teman-temannya bahwa beliau memiliki kemampuan yang di atas rata-rata dalam bidang desain grafis. Paling tidak, ini terbukti dari banyaknya pesanan yang masuk dari berbagai organisasi kemahasiswaan ataupun permintaan untuk berpartisipasi dalam beberapa kepanitiaan untuk menjadi staf publikasi. Namun, namanya juga mahasiswa, pekerjaan-pekerjaan itu dilakukan atas dasar kerelaan, sehingga tidak menghasilkan sesuatu yang berarti bagi beliau, kecuali pengalaman.

Maka, muncul ide untuk membuat suatu perusahaan kecil, yang kelak diharapkan akan menjadi sebuah perusahaan besar. Perusahaan ini akhirnya diberinama RadjaDesain, berdasarkan beberapa pertimbangan, termasuk kemudahan membangun awareness masyarakat.

Sebagai bagian dari langkah awal pengembangan RadjaDesain, kami membuat suatu blog yang diharapkan dapat membantu Anda semua untuk mengenali RadjaDesain.

Bidang Usaha

RadjaDesain, seperti pada awal pendiriannya, bergerak di bidang desain grafis dan fotografi. Saat tulisan ini dibuat, kami baru memiliki susunan pengurus informal yang hanya terdiri atas tiga orang saja, yaitu M. Erlangga (Angga), Arya Sandayanto (Arya), dan M. Arfandi Nasrullah (Fandi). Ketiganya memiliki posisi yang spesifik: Angga sebagai manajer umum sekaligus art director, Arya sebagai manajer bina usaha, sedangkan Fandi sebagai humas sekaligus manajer promosi dan pemasaran.

Pada masa yang akan datang, kami akan menarik beberapa orang sesama mahasiswa untuk ditempatkan sebagai pegawai tetap yang mengisi pos-pos manajer keuangan, manajer personalia, dan posisi-posisi strategis lainnya, serta sebagai freelancer yang meliputi desainer dan fotografer.

Seiring dengan waktu, pembenahan-pembenahan akan terus kami lakukan pada struktur organisasi kami. Dalam waktu dekat ini, kami memang belum memerlukan banyak pengurus tetap. Maka, kami akan banyak merekrut teman-teman mahasiswa sebagai freelancer kami.

Domisili

Saat ini, kami masih berdomosili di Depok, tanpa alamat tetap. Namun, kami akan senantiasa menjaga profesionalisme yang tentunya akan sama-sama memuaskan klien dan diri kami sendiri. Kami melayani pesanan-pesanan dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, untuk sementara.

Prospek ke Depan

Prospek ke depan perusahaan ini adalah menjadi agensi periklanan, dan percetakan sekaligus penerbit tanpa meninggalkan khitahnya sebagai perusahaan desain. Beberapa pekerjaan yang dapat kami layani adalah: layout buku, undangan, pre-wedding photography, poster, baliho, pamflet, print-ad, dan sebagainya.

Dengan usaha keras, kami akan berusaha mewujudkan mimpi-mimpi kami sambil memperbaiki kesalahan-kesalahan kami, sedikit-demi-sedikit. Tentu tak ada yang tak mungkin dalam dunia ini. Maka, kami tak akan pernah berhenti untuk menjadi bukan yang terbaik, agar selalu berusaha menjadi yang terbaik.

Hubungi Kami

Untuk pesanan, kritik, atau saran, silakan hubungi kami melalui email: radjadesain.gmail.com atau melalui telepon: 021-91020226 (Angga), 08568700035 (Fandi).

RadjaDesain

RadjaDesain

Hi!
The king was born. We’re a group of students which began to change our future right now.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.